Pemadaman Listrik Bergilir di Kukar Picu Aksi Mahasiswa, PLN Diminta Beri Kepastian
Puluhan mahasiswa BEM
Unikarta menggelar aksi di depan Kantor PLN ULP Tenggarong terkait dengan
pemadaman listrik bergilir di Kukar. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) memicu aksi protes puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (BEM Unikarta).
Mereka mendatangi
Kantor PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tenggarong, Selasa (18/8/2026), untuk
mempertanyakan penyebab pemadaman sekaligus meminta kepastian penanganan dari
PLN.
Dalam aksi tersebut,
mahasiswa membawa empat poin tuntutan, yakni meminta PLN memberikan penjelasan
konkret mengenai penyebab pemadaman bergilir, mengevaluasi keterlambatan
informasi pemadaman, meminta pertanggungjawaban atas dampak yang dialami
masyarakat, serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Perhatian pengguna
jalan juga tertuju pada aksi tersebut dimana mahasiswa membentangkan spanduk
yang bertuliskan “Klakson Jika Marah Dengan PLN”.
Sontak hal tersebut
mencuri perhatian sejumlah pengendara yang melintas kemudian membunyikan
klakson sebagai bentuk respons terhadap persoalan pemadaman listrik yang mereka
soroti.
Ketua BEM Unikarta,
Zulkarnain mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian keresahan
mahasiswa terhadap kondisi kelistrikan yang dinilai telah mengganggu aktivitas
masyarakat.
“Belum merdeka dari
pemadaman listrik bergilir, belum merdeka dari keadilan, belum merdeka dari
rasa empati dan ketidakberpihakan pemerintah kepada masyarakat Kukar,” ujarnya.
Ia menyebut dampak
pemadaman dirasakan berbagai kelompok masyarakat.
Aduan yang diterima
mahasiswa antara lain berasal dari pelaku UMKM yang mengalami penurunan
pendapatan, hingga mahasiswa yang terkendala menjalankan kegiatan karena
membutuhkan listrik.
Selain itu, ia
menyoroti kondisi lampu lalu lintas yang ikut padam ketika terjadi gangguan
listrik. Menurutnya, persoalan tersebut perlu diperhitungkan karena berkaitan
dengan keselamatan pengguna jalan.
“Lampu merah yang
pada saat pemadaman tersebut lampunya mati, dan itu berdampak serta berpotensi
menimbulkan kecelakaan,” tuturnya.
Dalam audiensi dengan
PLN ULP Tenggarong, mahasiswa memperoleh penjelasan bahwa pemadaman dipengaruhi
faktor internal dan eksternal.
Faktor eksternal yang
disampaikan antara lain cuaca buruk serta gangguan akibat hewan yang masuk ke
jaringan listrik.
Sementara untuk
pemadaman bergilir, mahasiswa mendapat penjelasan mengenai penerapan manajemen
beban.
Ia mengatakan
pihaknya masih mempertanyakan dasar instruksi tersebut karena PLN ULP
Tenggarong disebut tidak mengetahui secara rinci alasan dari instruksi
pemadaman yang diterima.
“Kami hanya sekadar
mendapat jawaban bahwa ini untuk manajemen beban. Artinya supaya kinerja
perbaikan itu bisa segera dilakukan,” katanya.
Mahasiswa juga
meminta agar komitmen yang disampaikan PLN dalam audiensi tidak berhenti pada
pernyataan.
Ia berharap langkah
konkret dilakukan untuk mencegah pemadaman serupa kembali mengganggu
masyarakat.
“Harapannya komitmen
itu benar-benar bisa dijalankan, bukan hanya sekadar berjanji. Karena jujur
saja, tiap kami melakukan aksi demonstrasi, selalu diberi janji, selalu diberi
janji,” pungkasnya.
Menanggapi aksi
tersebut, Manajer PLN ULP Tenggarong, Hasmon Karaeng, menjelaskan penanganan
gangguan kelistrikan dilakukan selama 24 jam.
PLN juga menyediakan
sejumlah saluran komunikasi untuk menerima laporan dari pelanggan.
“Tugas kami memang
tidak boleh ada padam untuk pelayanan listrik, yang bisa kami lakukan, kami
berupaya 24 jam untuk melakukan perbaikan dan menjaga keandalan sistem kami,”
ujarnya.
Ia menjelaskan
pemadaman yang terjadi terbagi menjadi dua jenis, yakni pemadaman yang
direncanakan untuk kebutuhan pemeliharaan dan pemadaman akibat gangguan yang
muncul secara tiba-tiba.
Untuk pemadaman yang
direncanakan, PLN dapat memberikan informasi kepada pelanggan paling lambat
satu hari sebelumnya.
Namun, kondisi
berbeda terjadi ketika gangguan muncul secara tiba-tiba sehingga petugas harus
terlebih dahulu mencari sumber masalah di lapangan.
Ia juga mengatakan
bahwa pelanggan dapat menyampaikan laporan melalui kanal layanan PLN, termasuk
saluran WhatsApp yang telah disiapkan.
Laporan yang masuk
melalui saluran tersebut nantinya akan diteruskan kepada petugas untuk
ditindaklanjuti sesuai kondisi gangguan di lapangan.
“Kami sudah
menyiapkan sebuah kanal sosial dan saluran channel WhatsApp. Jadi teman-teman
sudah melakukan pelaporan melalui situ, kami melakukan tindak lanjut di situ,”
kata dia.
Gangguan mendadak,
lanjutnya, dapat disebabkan berbagai kondisi seperti cuaca buruk, pohon tumbang
maupun hewan yang masuk ke jaringan.
Petugas kemudian
mencari titik gangguan sebelum melakukan perbaikan dan pemulihan jaringan.
Ia menambahkan PLN
juga memasang pelindung pada jaringan listrik untuk mengurangi risiko gangguan
yang disebabkan hewan.
Penanganan gangguan
juga dilakukan dengan mengatur jaringan agar wilayah yang tidak terdampak tetap
dapat memperoleh pasokan listrik.
“Kalau sampai ada
tupai yang mati karena tersengat listrik, kami cari, kemudian kami
dokumentasikan. Kami lakukan perbaikan lagi, termasuk pemasangan
penutup-penutup isolator,” jelasnya.
Menurut Hasmon, proses penanganan gangguan membutuhkan waktu karena petugas harus menemukan titik gangguan sekaligus memastikan material dan tenaga tersedia untuk perbaikan.
“Kami mohon maaf di
situ. Kami berupaya semaksimal mungkin agar penanganannya tidak lebih dari tiga
jam,” pungkasnya. (Kriz)